Penulis Jasmin – 8 Mei 2021, 13.13 WIB

      Kampus Institut Teknologi Bandung sedang diramaikan oleh isu seleksi mandiri yang memperbolehkan calon mahasiswa untuk dapat langsung memilih jurusan. Sebetulnya, hak untuk dapat memilih jurusan sudah ada sebelumnya atau lebih dikenal dengan istilah peminatan. Peminatan hanya dapat dipilih melalui jalur SNMPTN atau seleksi mandiri (SM). Permasalahan utamanya adalah jurusan yang ditawarkan oleh ITB melalui jalur SM tahun 2021 jauh lebih bervariasi dan mencakup jurusan-jurusan favorit yang diperebutkan di jenjang tahap persiapan bersama (TPB). Sedangkan, jurusan yang ditawarkan melalui peminatan SNMPTN masih tetap sama seperti tahun-tahun sebelumnya dan yang melalui jalur SBMPTN tidak dapat memilih jurusan sama sekali. Hal ini membuat massa kampus diwakilkan oleh Keluarga Mahasiswa ITB (KM ITB) melakukan aksi berduka yang disebut dengan Aksi Karangan Bunga.

      Jalur masuk SM memiliki biaya UKT paling tinggi sebesar 25 juta rupiah dan berdasarkan laman admission ITB, SM ITB berjalan tanpa subsidi biaya. Hal ini membuat ITB terkesan pay to win karena mahasiswa yang melalui jalur SM dapat langsung memilih jurusan tanpa harus bersaing nilai akademik di TPB. Padahal, TPB diselenggarakan untuk suasana kompetisi yang sehat. Mahasiswa yang sudah mendapatkan bangku di jurusan akan merasa “aman” dan mengurangi semangat berakademik di TPB. Pada jangka waktu yang berkelanjutan, hal ini dapat membuat massa TPB menjadi terkotak-kotakkan dan mengurangi rasa solidaritas dan kebersamaan. Oleh karena itu, melalui aksi ini diharapkan ada kebijakan baru yang lebih adil bagi calon mahasiswa baik melalui jalur SNMPTN, SBMPTN, maupun SM.

      Pernyataan sikap yang tidak setuju terhadap kebijakan baru ini sempat dilayangkan ke direktorat pendidikan pada awal maret, akan tetapi tidak ada respons yang diberikan. Kemudian dilayangkan kepada rektor dan didisposisikan juga kembali ke direktorat pendidikan. Pernyataan ini juga sempat dibahas bersama Majelis Wali Amanat-Wakil Mahasiswa (MWA WM) ITB dan didapatkan strategi dengan membuat tebusan kepada setiap anggota MWA ITB. Berikutnya kembali didisposisikan kepada direktorat pendidikan dan kemahasiswaan. Direktorat kemahasiswaan sudah merespons, tetapi direktorat pendidikan masih belum memberi jawaban hingga saat ini.

      Pernyataan sikap ini juga untuk memohon pihak rektorat ITB agar lebih transparan dengan memberikan informasi yang jelas pada laman admission ITB mengenai biaya pendidikan (UKT) bagi calon mahasiswa yang mendaftar melalui jalur SM 2021. Rektorat juga diharapkan dapat mencantumkan informasi mengenai beasiswa UKT mengingat adanya golongan UKT selain 25 juta rupiah.

      Aksi Karangan Bunga dilakukan pada tanggal 2 dan 4 Mei 2021. Pada tanggal 2 Mei, dilakukan pensuasanaan poster kematian dan ajakan kepada massa untuk berbelasungkawa. Pensuasanaan dilakukan melalui Instagram dalam bentuk Instastories dan posting-an yang diawali dengan mengucapkan selamat hari pendidikan, kemudian dilanjut dengan berita duka mengenai hilangnya kesempatan yang berimbang bagi mahasiswa ITB. Pada posting-an juga terdapat meme yang menyindir kebijakan baru  SM tersebut. 

      Rangkaian Aksi Karangan Bunga dilakukan di Kubus, 4 Mei 2021. Berdasarkan run down, acara seharusnya dimulai pukul 14.00. Akan tetapi, akibat hujan dan permasalahan perizinan, acara harus tertunda selama hampir satu jam. Setelah mengobrol dan bernegosiasi dengan satpam, akhirnya acara diperbolehkan untuk dilakukan di kubus dengan syarat hanya selama 30 menit (14.45-15.15 WIB) dan harus segera selesai. Oleh karena itu, aksi teatrikal, funeral speech, dan mimbar bebas terpaksa ditiadakan. Aksi ini dilakukan oleh massa yang sangat terbatas, perwakilan KM ITB dan media dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Massa kampus lainnya dapat mengikuti kegiatan melalui platform Zoom atau Youtube secara langsung.

      Di bawah rintik hujan, acara dimulai dengan pembukaan oleh Hanif Ihsan (EP’17) sebagai perwakilan KM ITB. Hanif menyebutkan bahwa di hari pendidikan ini kita mengalami sesuatu yang sangat mengenaskan, yaitu kebebasan berpikir dan kemerdekaan dalam institusi tidak dapat dijaga. “Ujian masuk sepatutnya menjadi gerbang atas sesuatu yang berkeadilan, tetapi ada bagian yang mendapatkan keamanan dan ketenangan privilege dengan hal-hal yang mereka punya sehingga bisa dengan mudah mendapatkan tempat duduk yang ada di kampus ini.”

      Kemudian dilanjut dengan arak-arakan peti. “Suatu tanda peti mati bukan atas matinya semangat para mahasiswa yang punya idealisme dan rasa keadilan, tetapi atas matinya niat dari institusi untuk menegakkan keadilan,” lanjut Hanif.

      Acara berikutnya yaitu penaburan bunga di atas peti sebagai bentuk simbolis pemakaman dengan orasi oleh Nada Zharfania (TL’16), Ketua KM ITB 2020/2021. Nada menyebutkan ada tiga musuh perguruan tinggi menurut UU No.12 Tahun 2012, yaitu ketimpangan, ketidakadilan, dan keengganan berdialektika. Menurutnya, perguruan tinggi seharusnya menjamin kesempatan yang sama tanpa diskriminasi, menjamin keadilan dan keamanan, serta kebenaran ilmiah untuk ditegakkan. “Kita berduka atas tumbuh kembangnya sifat-sifat musuh perguruan tinggi di ITB hari ini. Atas ketimpangan yang malah diserap ITB dan bisa-bisanya ada perbedaan kesempatan untuk mahasiswa jalur SNMPTN, SBMPTN, dan SM. Takutnya dari ketidak transparan ITB di laman admission ada mahasiswa yang menarik diri karena UKT padahal ITB tidak mungkin drop out mahasiswa karena masalah ekonomi.”

      Nada juga menyebutkan bahwa semua jalur komunikasi formal sudah ditempuh dan ditolak, juga sebanyak tiga kali undangan sudah diberikan dengan hasil empat kali didisposisi dan satu bulan menunggu tanpa kepastian. Di samping itu, Nada mengingatkan pesan Soekarno bahwa lebih susah melawan bangsa sendiri daripada penjajah. Hal ini mencerminkan bahwa ITB perlu yang adanya external pressure untuk dapat membuat perubahan, “Semoga ITB segera mau berefleksi dan semoga ketimpangan struktural yang diciptakan di badannya sendiri segera dicabut. Cabut kebijakan SM ITB yang memperbolehkan mahasiswa 2021 memilih langsung jurusan,” tutup Nada.

      Acara kemudian dilanjutkan dengan orasi oleh Jen Megah (MS’17) sebagai penanggung jawab sementara (PJS) K3M ITB. Jen memberikan pesan singkat, “Memang hari ini kita berduka, tetapi semoga ini menjadi duka terakhir kita karena perjuangan akan selalu mencoba menghidupkan kembali apa yang sudah mati.”

      Kemudian, tepat pukul 15.15 WIB, karangan bunga dibawa memutari daerah kampus ITB. Hal ini bertujuan menarik massa eksternal sehingga dapat menimbulkan kesadaran dan menciptakan external pressure terhadap pihak ITB. Karangan bunga sempat disimpan sejenak di beberapa titik, seperti di depan kebun binatang, di depan gerbang belakang ITB, di perempatan lampu merah simpang dago, dan di depan rumah dinas rektor ITB. Ketika berhenti di depan rumah dinas rektor ITB, massa aksi menulis kesan dan pesannya di karangan bunga terhadap kebijakan maupun ITB secara general. Ada yang menulis harapan agar ITB kedepannya dapat diajak berdiskusi, menolak komersialisasi, hingga menanyakan keberadaan jaket almamater (jamal) bagi angkatan 20 yang tidak kunjung tiba.

      Kegiatan aksi diakhiri dengan penyerahan karangan bunga kepada satpam agar dapat diletakkan di dalam kampus dan closing statement dari Nada dan Agatha. Diharapkan dengan adanya Aksi Karangan Bunga, massa kampus maupun eksternal dapat lebih aware akan isu SM 2021 hingga pihak kampus mau merubah kebijakan demi keadilan bagi setiap mahasiswa.